Sabtu, 26 April 2014

Sebuah Cerpen: Bleeding Berry



           
 Bleeding Berry
 N.Naomi
            Bagaimana caranya aku mendeskripsikan senja yang indah? Kata-kata yang bisa membuat orang bisa ‘merasakan’ hembusan angin senja, ‘melihat’ guratan warna oranye di langit yang menggelap, ‘mendengar’ burung-burung yang berarak menuju sarang atau ‘merasakan’ senja indah yang ku alami ketika bertemu dengan gadis itu.
            Pada senja itu, sepulang sekolah aku berlari menuju rumah karena harus bekerja paruh waktu di supermarket. Disela-sela nafas tersengal, kakiku tiba-tiba melambat. Di depan sana, di dekat jembatan, seorang gadis berdiri memandang air sungai yang berkilau di bawah cahaya senja. Tanpa sadar, aku sudah berada di sampingnya. menatapnya dalam diam. Dia menoleh.
            “strawberry”, sahutku tiba-tiba.
            Gadis itu hanya diam sambil menatapku. Lalu aku kembali berlari.
            Apa yang sudah aku katakan?! Strawberry! Arggh, kenapa aku mengatakan ‘strawberry’.  Wangi tubuhnya seperti strawberry, dari jauh wangi itu tercium, jadi aku mengatakannya begitu saja. Laki-laki macam apa aku ini? tak menyapa gadis cantik dengan kata ‘hai’ atau apalah yang wajar.
            Aku memang benar-benar tidak berbakat bila harus berhadapan dengan seorang gadis. Gadis manapun. Kecuali gadis jadi-jadian. Buktinya pada pertemuan kedua di supermarket tempatku bekerja paruh waktu, aku mengatakan hal aneh lagi pada gadis ‘strawberry’ itu.
            “se..semuanya 10.000”, kataku sambil membungkus es krim rasa strawberrynya.
            Gadis strawberry itu hanya diam dan mengeluarkan uang 20.000.
            “kembaliannya 10.000. strawberry makan strawberry”, sahutku tanpa sadar.
            Kulihat mata gadis itu sedikit melotot. Apa yang telah ku katakaaannn?!! Tidaak! Seharusnya aku berkata ‘terima kasih’. Rasanya ingin membenturkan kepala ke mesin kasir saat itu juga. 
            Keesokan harinya, lagi-lagi aku harus pulang sambil berlari. Akhir-akhir ini klub baseball sangat sibuk latihan.  Sangat melelahkan. Mataku kembali menangkap sosok gadis itu di samping jembatan. Dia menatap air sungai yang berkilau dengan mata yang berkaca-kaca. Jangan-jangan dia sedang sedih. Apa yang sedang ia pikirkan? Dari kejauhan aku berpikir apa yang biasanya seorang gadis SMA pikirkan? Aku tau! Pasti soal penampilan. Aku yakin gadis strawberry itu sedang memikirkan penampilannya. Padahal menurutku penampilannya baik-baik saja. Rambutnya indah tergerai sampai punggung. Dia tidak gendut atau terlalu kurus. Mukanya manis tidak seperti bapak-bapak.
            Ketika sudah berada di sampingnya tiba-tiba aku berkata, “kau manis, strawberry!”
             Gadis strawberry menoleh ke arahku dengan mulut yang sedikit terbuka. Di matanya penuh air yang siap tumpah. Pasti pandangannya kabur saat itu. Gadis strawberry tidak mengatakan apa-apa. Lalu aku pergi begitu saja dan menyadari sesuatu. Apa yang telah ku katakaaann?!! Aku menyebutnya manis ketika dia sedang sedih?!! Semoga dia tidak salah paham. Sejak saat itu aku memutuskan  untuk tidak mengatakan apa-apa dihadapannya jika bertemu lagi.
            Beberapa hari kemudian badanku serasa remuk karena dihukum menyabuti rumput di taman sekolah. Aku berjalan pelan-pelan agar tulang kakiku tetap berada ditempatnya. Aku bertemu gadis strawberry. Dia menoleh ke arahku lalu berjalan pergi melewati jembatan.
            Aku tidak mau mengejarnya lagi dan berkata hal-hal yang aneh. Aku hanya ingin mengikutinya. Kemana dia akan pergi?
            Gadis strawberry masuk ke dalam apartemen yang tidak terlalu besar namun tidak kumuh. Dia menatapku sebelum masuk. Aku tidak bisa mendeskripsikan tatapannya. Dia menutup pintu dan menguncinya.
            Sejak hari itu, setiap hari aku sengaja pulang senja agar aku bisa mengikuti gadis strawberry saat tidak bekerja paruh waktu. Senjaku berakhir dengan suara pintu yang dikunci oleh gadis strawberry.
            Pernah aku memutuskan untuk menunggunya keluar di malam hari. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Sekalian memastikan dia tinggal dengan siapa. kupastikan dia tidak tinggal dengan siapa-siapa karena tidak ada yang keluar dari apartemennya.
            Aku juga pernah mengecek tong sampahnya untuk memastikan dia tidak meminum bir atau produk yang dilarang. Di tong sampahnya, aku hanya menumukan tumpukan kertas yang telah dicoret-coret. Aku memutuskan untuk mengambilnya dan membawa kertas-kertas itu pulang.
            Di rumah aku membaca kertas-kertas itu. Isinya seperti sebuah puisi. Kata-katanya indah dan menggambarkan sesuatu yang tidak aku mengerti.
            Di musim hujan aku berpayung di dekat jembatan
            Air sungai deras seperti menyeret sesuatu
            Angin bagai menghantam kepalaku
            Tak terdengar suara petir yang menggetarkan hati
            Dia datang sambil menatapku
            Aku berjalan dengannya bergandengan bersama-sama hujan
            Wahai kekasihku menolehlah
            Retakan-retakan itu sudah kuperbaiki
            Di satukan dengan cahaya-cahaya senja yang indah
Warna merah itu selalu membuat mataku terang
Bau asap motormu tersimpan disini
Kemarilah, ambil ini
Aku benar-benar tidak pandai mengartikan sebah puisi. Nilai bahasaku selalu di bawah rata-rata. Rasanya menyebalkan tidak bisa mengartikan kata-kata gadis yang kusuka.
Minggu ini jadwal kerja paruh waktuku penuh. Jadi aku memutuskan untuk tidak menjaga gadis ‘strawberry’ untuk sementara waktu.
Minggu berikutnya, aku ‘berkunjung’ ke apartemennya saat malam hari. Aku mendengar dari luar suara seorang laki-laki yang berteriak-teriak di dalam apartemennya. Laki-laki itu seperti sedang marah pada seseorang. Tidak! Jangan-jangan laki-laki itu sedang memarahi gadis ‘strawberry’. Aku memutuskan utnuk mencari senjata untuk melawan laki-laki jahat itu. Ketika sedang mencari, tiba-tiba, laki-laki itu keluar dari apartemen gadis strawberry dan pergi menggunakan motor merah yang mengepulkan asap knalpot bau.
Aku baru sadar, laki-laki itu adalah orang yang ada dalam puisi gadis strawberry. Aku yakin dia orang jahat. Mulai hari itu aku memutuskan untuk tidak kerja paruh waktu untuk menjaga gadis strawberry. 
Pada suatu malam, aku melihat gadis strawberry keluar dan membuang kertas-kertas bekas. Aku mengambil kertas-kertas itu dan kubawa pulang.
Di rumah, aku membaca kertas-kertas itu, lagi-lagi berisi puisi yang tidak terlalu kumengerti.
Pertemuan itu tidak pernah kulupakan
Tatapan itu seperti haus
Apa dia benar-benar haus atau tidak
Apa aku mangsa yang ia inginkan
 Sekarang dia memaksaku masuk
Masuk ke dalam ketakutan
Aku takut memecahkan sesuatu
Jangan lukai aku
Dari puisi itu aku hanya bisa menyimpulkan, laki-laki yang kemarin berteriak adalah orang yang berbahaya. Jika aku bertemunya lagi nanti, aku akan menyelakainya.
Keesokan harinya aku ‘berkunjung’ ke apartemen gadis strawberry dan melihat motor merah itu terparkir di bawah. Laki-laki itu pasti ada di dalam. Untung saja aku membawa peralatan untuk membobol kunci rumah dan tongkat bassball. Aku bisa langsung menolong gadis strawberry ketika dia diserang oleh laki-laki itu. 
Aku berdiri tepat di pintu apartemennya dan mendengar laki-laki itu berteriak kembali. Ku putuskan untuk membobol pintu rumahnya. Cukup sulit membobol rumah dengan kunci ganda. Aku membutuhkan waktu 30 menit. Suara laki-laki itu tidak lagi terdengar, ketika aku masuk ke rumah gadis strawberry.
Di apartemen gadis strawberry tidak tampak adanya kerusakan akibat keributan. Aku menuju ruang tengah tidak ada siapa-siapa. Aku menuju dapur tidak ada siapa-siapa. di balkon juga tidak ada siapa-siapa. jangan-jangan laki-laki itu telah membunuh gadis strawberry?! Aku menuju kamar tidak ada siapa-siapa. Kemana perginya mereka? Di meja riasnya ada foto strawberry dan laki-laki itu bersama laki-laki tua, dan perempuan tua.
“Kreek...”, suara pintu kamar mandi membuaku menoleh. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi.  Apa-apaan ini?! gadis strawberry dan laki-laki yang tadi berteriak sedang berciuman. Laki-laki itu terlihat sangat bernafsu. Badannya membelakangiku. Apa yang sedang ia lakukan pada gadis strawberry ku?! Sialan! Aku berlari dan menyerangnya dari belakang.
“Buukk!”, kupukul kepalanya. Laki-laki itu jatuh terkapar penuh darah di kepala. Mata gadis strawberry membelalak. Tubuhnya bergetar. Lalu berteriak ketakutan.
“Ja..jangan takut. Aku, aku akan melindungimu, gadis strawberry”, kataku meyakinkan.
Gadis strawberry hanya menangis sambil memeluk tubuh laki-laki itu.
“Ja..jangan pegang dia. Dia berbahaya!”, kataku lagi.
“eapa amu auan ii?!! Amu ia’a?”, tiba-tiba gadis strawberry itu berbicara dengan tidak jelas. Tidak mungkin. Ternyata gadis strawberry gagu.
“amu ia’a? ena’a amu utin au erus?”, gadis strawberry terus saja berbicara sambil menangis. Gadis strawberry menyalahkanku, memakiku,  membela laki-laki jahat itu.
Ketika dia sudah tidak bisa memakiku lagi, dia berdiri menuju telepon rumah. aku yakin dia ingin menelepon rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa laki-laki itu. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis strawberry yang bodoh? padahal aku melakukan ini untuk melindunginya. Dia malah memakiku dan menyalahkan aku. Aku menyelamatkan nyawanya tapi dia malah mematahkan hatiku. Dia sama sekali tidak berkata terima kasih padaku karena telah menjaganya selama ini. Aku benci dan mungkin juga dibenci.  Aku berfikir betapa bodohnya aku dan betapa menyebalkannya gadis strawberry itu.
Ketika sadar, tanganku sudah berlumuran darah gadis strawberry. Tapi, darah itu tidak berbau strawberry.
“Seharusnya kau berterima kasih padaku, gadis strawberry”, kataku sambil menutup matanya yang terbelalak.
Kututup senja ini dengan suara pintu apartemen gadis strawberry yang kukunci dari dalam. 
FIN

Selasa, 04 Maret 2014

Sebuah Cerpen: Laki-Laki Penanya Cuaca

         By: NNaomi
  “Hanya kamar ini yang tersisa. Semua penuh. Kau harus berbagi kamar dengan pasien di sebelahmu ketika cuci darah”, ucap susterku sambil mendorong kursi rodaku yang berderi-derit ketika digerakan.
            “Aku tidak keberatan sama sekali”, jawabku pelan.
            “Kau juga tidak boleh keberatan untuk tidak mengganggu pasien di sampingmu”
            “Aku tidak akan mengganggunya, Kakak”. Memangnya untuk apa aku mengganggu orang yang tempat tidurnya ditutupi tirai rapat-rapat?
            Aku diam saja ketika Kakakku memasangkan selang ke tanganku. Ini sudah menjadi rutinitas. Aku sudah terbiasa dengan waktu yang membosankan ketika cuci darah. Waktu yang memaksaku untuk menyadari hal-hal yang menakutkan. Waktu yang menyeretu ke dalam kemungkinan terburuk. Seperti, bagaimana jika mesin pencuci darah ini, tidak lagi bisa menolong hidupku? Bagaimana caraku mati nanti. Apa aku akan kesakitan? Atau  aku akan tenang, karena aku sedang tertidur? Semua itu mengiang di pikiranku. Sudahku coba mengabaikannya, tapi entah apa yang harus aku pikirkan lagi.
            “Aku harus pergi membantu suster lain. Tetap disini dan tetaplah tenang”
            “Memangnya kapan aku berlari-lari saat cuci darah? Hah?”, jawabku asal.
            Aku benci ditinggalkan. Ayahku, ibuku, entah apa yang dilakukan mereka di alam baka sekarang. Sepertinya mereka tidak akan mempedulikan aku walaupun aku sedang sekarat. Aku membenci mereka karena telah meninggalkanku dan kakakku sendirian di dunia yang tidak ada bagusnya.
            Aku mencoba menenangkan diri.
            “Bagaimana cuaca di luar?”, Tanya seseorang yang berada di balik tirai.
            “Apa?”, aku kaget karena tiba-tiba saja orang itu mengajakku bicara.
            “Bagaimana cuaca di luar?”, tanyanya lagi.
            “Baik-baik saja”, jawabku singkat.
            “apanya?”
            “cuacanya. Kubilang cuacanya baik-baik saja”
            “memangnya kau sedang membicarakan siapa?”
            “apa maksudmu?”, aku bingung sendiri.
            “kau seperti membicarakan seseorang. Aku menanyakan soal cuaca”
            “aku memang sedang membicarakan soal cuaca!”
            Sudah hentikan. Aku tau siapa yang ada di balik tirai itu. Seorang laki-laki yang menyebalkan yang bertanya soal cuaca, dan menganggap aku bodoh karena aku mengatakan kalau cuaca baik-baik saja, padahal cuaca bukanlah orang.
            “Bagaimana cuaca hari ini?”, Tanya lagi dengan nada lebih pelan.
            “cuaca hari ini cerah”, jawabku singkat.
            “teruskan”
            “matahari menyinari rerumputan yang hijau. Mereka terlihat berkilau dari atas sini”
            “aku bisa merasakanya sekarang. Terima kasih.”
            Apa-apaan orang itu? Dia menanyakan cuaca. Mengapa dia tidak membuka tirainya dan melihatnya sendiri. Mungkin dia hanya bersikap ramah padaku. Tapi, itu terasa menyebalkan.
            Keesokan harinya, aku datang lagi ke kamar itu untuk cuci darah. Aku berbaring dan memejamkan mataku, membayangkan hal-hal yang menyedihkan dan mencoba untuk membiasakan diri dengan kesedihan.
            “Bagaimana cuaca hari ini?”, Tanya laki-laki di balik tirai.
            “Mendung. Tidak seperti kemarin. Hari ini rumput-rumput seperti layu karena tidak dibasuh dengan kilauan cahaya matahari”, jawabku asal untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu dengannya.
            “Terima kasih. Aku bisa merasakkannya sekarang”
            Setiap harinya ketika aku cuci darah di ruang itu, laki-lai di belakang tirai selalu bertanya tentang bagaimana keadaan cuaca di luar sana. Laki-laki itu ingin aku menceritakannya dengan kata-kata yang indah. Ketika aku bercerita tentang cuaca padanya, aku jadi tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan kesedihan.
            Tiba pada suatu hari, orang itu tidak bertanya sama sekali. Dia hanya diam di balik tirainya. Anehnya, aku malah menunggu pertanyaannya tentang cuaca. Tapi hari itu dia sama sekali tidak berbicara.
            Keesokan harinya aku masih menunggu pertanyaannya tentang cuaca hari ini.
            “Bagaimana cuaca hari ini?”
            Yes, dia menanyakan cuaca lagi padaku!
            “Cuaca hari ini muram. Sinar matahari hanya mengintip-ngintip dari balik awan. Ritik-rintik hujan membasahi rumput-rumput yang merindukan matahari. Semua terasa sangat... tidak menyenangkan”
            “Aku bisa merasakannya sekarang. Terima kasih”
            “Hei, mengapa kau tidak bertanya soal cuaca kemarin? Kau tau aku ada di sini”
            Laki-laki itu tidak menjawab. Ruangan  menjadi hening.
            “Bagaimana keadaanmu sekarang?”, Tanya laki-laki di balik tirai padaku.
            “Semakin buruk”
            “Lanjutkan”
            “Tidak ada yang bisa menolong gadis yang terlahir dengan satu ginjal lemah. Mesin pencuci darah pun mungkin lama kelamaan akan tidak sanggup. Aku yang akan membunuh diriku sendiri. Racun di dalam tubuhku yang akan mengakhiri waktu menyedihkan ini”
            “Sekarang, lihatlah lagi ke jendela. Katakan apa yang kau lihat.”, ucapnya.
            Pelangi. Aku melihat pelangi yang indah. Warna-warna pelangi seperti menyentuh ujung-ujung rerumputan yang tadi layu. Indah sekali. Tapi aku diam saja. Aku tidak mengatakan apa-apa padanya.
            “Selalu ada hal indah yang bisa kau nikmati ketika kau masih hidup. Sesedih apapun kisah hidupmu. Seyakin-yakinnya kau akan mati besok, masih ada keindahan sederhana yang bisa kau nikmati saat ini.”, ucapnya seolah-olah dia tau apa yang ada dalam pikiranku.
            “Aku benar-benar tidak mengerti”, jawabku lirih
            “Kau akan segera mengerti. Pasti. Karena kau adalah keindahan sederhana itu. Kata-katamu adalah keindahan yang sederhana yang bisa aku rasakan saat ini. Oh lihat lah, aku melihat cahaya.”
            “Apa maksudmu?”
            Tiba-tiba kakakku datang.
            “Oke, Alice waktunya kau pergi”, ucap kakaku sambil membereskan selang-selang.
            “tunggu sebentar. Hei apa maksudmu?” tanganku mencoba meraih tirai-tirai yang tertutup rapat itu. Agar aku bisa melihat laki-laki itu.
            Namun tidak ada jawaban.
            “Apa yang kau lakukan Alice? Hentikan”     
            Tiba-tiba air mataku mengalir. Aku kesal karena tidak bisa menggapai tirai itu. Ku putuskan untuk membukanya esok hari. Aku merasa harus melihat laki-laki itu sebelum aku mati di tempat suram seperti rumah sakit ini.
            Keesokan harinya, ketika aku datang, tirai itu telah terbuka lebar. Namun kasur itu telah kosong.
            “Apa yang terjadi? Kemana laki-laki itu pergi? Apa yang terjadi pada laki-laki itu?!” tanyaku sambil sedikit berteriak.
            “Dia sudah pergi Alice”
            “Kemana dia pergi?”, aku belum juga mengerti.
            “Laki-laki itu telah pergi lebih dulu. Itu saja”
            Tiba-tiba air mataku tumpah membanjiri pipi. Dadaku sesak menahan marah.
            “mengapa dia harus pergi? MENGAPA?! Aku belum sempat melihatnya!”
            Kakakku berlutut memandangku.
            “Terima kasih, Alice. Aku tau kau berbicara padanya. Aku tau kau telah menguatkannya. Hidupnya sangat berat. Sebagai suster, aku malah tidak bisa menyemangatinya.”
            Apa yang kakakku bicarakaan? Aku menguatkan laki-laki itu? Malah sebaliknya, laki-laki itu yang mengajariku untuk tetap hidup menikmati hal indah yang sederhana.
            “Seberat apa hidupnya?”, Tanyaku.
            “Dia menderita kanker otak. Semua cara telah dia lalui. uangnya habis untuk pengobatannya. Karena semua cara gagal dia memutuskan untuk berhenti dan tinggal di kamar ini”
            “Dia menanyakan soal cuaca padaku. Dia ingin aku berbicara.”, ucapku sedih.
            “Tidak, dia ingin berbicara, tapi itu terlalu sulit. Dia menanyakan cuaca padamu, karena dia buta”
            Aku semakin terpukul mendengarnya. Sekarang laki-laki itu membuatku merasa bersalah karena tidak menceritakan cuaca yang indah padanya atau menceritakan pelangi yang kemarin kulihat. Laki-laki itu membuatku merasa bersalah karena aku tidak menceritakan banyak hal yang menyenangkan.  
            “Mengapa dia harus mati? Kenapa orang-orang harus mati?”
            Aku terisak seperti anak kecil. Mengapa? Padahal kemarin dia bilang dia melihat cahaya. Bukan kah kemarin dia jadi bisa melihat kembali?
            “Karena, memang seharusnya begitu, Alice”

LA FIN